Detangle those strings
Markkeon/Nangtin. 2,000-something words. Part of Chirpy Seal and Sea Lion. KH (20) MT (21).
Tags: Conversation, Misunderstanding, KH is pissed, MT is jealous? We never know, Communication is Key or whatever, Physical Touch Final Boss, Confrontation, Fluff?, Lots of Holding Hands
Please do not proceed if this is not your cup of tea. :]
Keonho mulai tidak sabar melihat tingkah Si Kakak.
Ia nyalakan-kunci-nyalakan-kunci kembali HP-nya terus-menerus demi melihat laman notifikasi, barangkali pacar yang lebih tuanya itu membalas sesuatu. Keonho tidak mengerti mengapa pesannya hanya dibaca saja, padahal ponsel Martin dipegang empunya, dan mereka tidak dipisahkan oleh jarak yang sebagaimana.
Yang muda melirik ke kanan sejenak ke yang lebih tua. Ternyata yang diperhatikannya sedang asik bercengkrama dengan kru lainnya. Ia memberikan tatapan mata intens, berharap bahwa tatapan itu bisa membawa sinyal panas kepada sang target untuk menjawab pesannya. Yang lebih muda percaya Martin pasti bisa merasakan keberadaannya dari peripheral vision-nya.
Keonho melangkah mendekati sekumpulan teman kuliah Jethro itu saat ia melihat diskusi tersebut sudah selesai. Ia berdiri di belakang celah antara Jethro dan Martin, berjinjit dan celingak-celinguk ke layar kamera yang sejujurnya tidak bisa dilihatnya. Berusaha acting invested selama beberapa detik sebelum tangannya menyenggol siku Martin.
“Bang Jethro, gue pinjem Kak Martin bentar ke lokasi dekat stable tadi, ya. Ada scene yang gue butuh bantuan. Boleh nggak?” tanyanya, matanya sengaja dikedipkan berkali-kali dengan cepat agar yang diajak bicara paham maksud dibaliknya.
“Take your time, we’re taking 15 anyway.”
“Emang beda lah creator kita satu ini,” balas Keonho, tangan kanannya tidak menunda untuk menautkan dengan milik yang jauh lebih tinggi darinya, sementara tangan kirinya menepuk pundak Jethro sebagai ucapan terima kasih yang tak tersirat.
“Let’s go, Kak,” bilang Keonho sebelum membawa Martin pergi menjauhi kerumunan menuju lokasi syuting yang jauh dan sudah tidak ditempati orang.
Yang lebih tua diam agak lama sebelum akhirnya berkata, “No… Where are we going?”
Martin tahu bahwa butuh keberanian luar biasa dari yang sedang menggandengnya untuk berani melakukan itu di depan orang-orang. Apalagi sejauh ini hanya Jethro yang tau mereka memiliki hubungan. Ia tahu bahwa Keonho sudah kesal atas aksi yang sebenarnya tidak ia maksud untuk lakukan. Lucu juga kalau dipikir-pikir—rindu ternyata manifestasinya bermacam-macam, ya?
“We need to talk,” ucap Keonho. “Somewhere out of their sight,” lanjutnya.
Yang di belakangnya hanya menipiskan bibir, enggan memancing amarah yang lebih muda kendati dirinya sendiri pun sempat disergap kekesalan yang sama.
“Kakak bete, ya?”
Tanya Keonho itu tidak dijawab lawan bicaranya—yang kini sedang bergelut dengan untaian pikiran dan emosi yang mencekam di benaknya. Lelaki yang diselimuti oleh jaket hijau tua itu sekarang nampak kecil di depan yang 12 sentimeter lebih pendek darinya, kepalanya terus menunduk, rona merah muda menolak reda di pipinya. Sudah begini kurang lebih tiga menit lamanya.
Keonho menghela napas pelan. Ia maju melangkahi sebuah bongkahan batu besar yang memisahkan mereka, menghapus sedikit jarak sebelum mengulurkan tangan untuk mengusap pelan bahu Kakak-nya.
Yang lebih muda kesal karena diberikan sikap dingin oleh yang lebih tua. Mungkin bagi orang lain, mendapatkan pesannya dibaca saja bukanlah sebuah gestur penolakan, toh mereka berada di lokasi yang sama. Tinggal ngobrol aja. Namun, Keonho tau bahwa ada sesuatu yang aneh dari lelaki di depannya hari ini.
Huruf-huruf yang dilontarkan yang lebih tua sengaja dipanjangkan di semua pesan seperti ada yang ditutupi. Pandangannya dihindari. Respon tubuh yang tidak acuh saat yang muda mendekatkan diri. Foto yang menurut Keonho lucu tidak diberi reaksi emoji penuh hati atau rentetan kata seolah yang menerima hilang akal pikir lagi.
Tangan Keonho kini turun dan menggenggam milik lelaki di depannya. Ibu jarinya mengelus punggung tangan yang pirang perlahan. “Talk to me, Kakak. Jangan biarin aku kesel tanpa aku tau Kakak kenapa."
“I’m sorry,” adalah ucapan pertama yang keluar dari bibir yang lebih tua.
“I was being an ass, was I not?” lanjutnya.
“I know you know you were being unnecessarily cold. And I know you go silent when you’re upset. So tell me,” kata Keonho lagi setelah berhasil mengontrol suaranya agar tetap lembut. “Is it because I was in Kak Julio’s car? Is it something I said?”
Martin mengembuskan napas pelan. Tatapannya masih jatuh pada jemari mereka yang saling bertaut. "First of all, I'm not jealous."
Kalimat itu keluar terlalu cepat, as if it's the sentence he's been rehearsing over and over again in his head.
"I don't mind you coming here in Julio's car instead of mine."
Sunyi kembali mengambil tempat.
Baru setelah beberapa detik, Martin mengangkat kepala. Tatapannya akhirnya bertemu dengan milik yang di depannya.
"It's... complicated."
Yang lebih muda mengusap pelan punggung tangannya sekali lagi. "Try me."
Seorang Martin, yang seharusnya tahu lebih baik, justru membiarkan dirinya memperhatikan wajah lelaki di hadapannya lebih lama dari yang seharusnya. Dagu Keonho sedikit terangkat saat menatapnya. Rambut hitamnya jatuh menutupi sebagian alis. Martin membenci kenyataan bahwa hal pertama yang muncul di kepalanya adalah keinginan untuk mengacak helaiannya. Garis rahangnya tegas, tetapi entah bagaimana masih menyimpan kelembutan yang sama sekali tidak masuk akal—setidaknya bagi orang kebanyakan.
Lalu matanya. Yang lebih tua selalu merasa bagian itu tidak adil. Sudah sempurna, masih pula harus dibingkai bulu mata panjang dan lentik. Sialnya, yang lebih muda belum juga mengalihkan pandangan. Sama sekali tidak membantu seseorang yang sudah terlanjur memuja untuk tidak merasa sedikit hilang kewarasannya.
"I guess..." suaranya nyaris terdengar seperti helaan napas. "I don't like what I feel after I know you keep hanging around Julio and bringing him food and stuff. When I was right there in front of you. Believe me when I say I really am not jealous. It’s just—" Martin mengedipkan matanya pelan.
"We haven’t met each other for a long time. It’s only two weeks sih, I know, and I feel even worse saying this out loud. You went here in a car that is not mine, and you’re giving so much attention to the person who was your first gay awakening?”
Kedua sudut bibir Keonho naik sebelum memotong, “Kak, that fleeting infatuation ended many years ago.”
“Exactly, makanya aku bilang aku nggak cemburu because it makes no sense to be jealous about it. It’s not the issue kayaknya. Kamu ngatain dan ketawain aku mulu di depan yang lain, bilang bajuku jelek, silly lah, ekspresi aku funny lah, bilang aku ambil snack sendiri aja lah di depan orang-orang padahal kamu ambilin tuh buat Sean sama yang lain. You were buuusy talking with everyone and making the whole room laugh, which I love sebenernya.”
Martin terkekeh pelan, tetapi tawanya cepat padam. "People just can't help but enjoy your presence."
Ia menggeleng kecil. "As they should be."
Ibu jarinya tanpa sadar mengusap buku-buku jari yang lebih muda. "See? Do I even make any sense?"
Yang lebih tua mengusap tengkuknya. "Aku beneran nggak tau kenapa aku ngerasa nggak enak dan malah menjauh nggak jelas, not like kamu bisa terang-terangan pegang aku juga tadi. Kamu ngedeket, tapi rasanya aku mau kabur aja biar kamu ikut ngerasain kalau aku nggak nempel kamu gimana and that’s ridiculous. I hate feeling this way karena aku kayak immature banget, anjir. You know this isn't me.”
Tatapan Keonho yang tidak lepas dari mata yang lebih tua melembut. Ia sudah mulai bisa mengaitkan rantai pikiran Kakak-nya dan rasa kesal yang ia miliki tadi berangsur berubah menjadi tawa-tawa kecil yang lepas.
“And why are you laughing?” tanya Martin, dahinya mengerut.
“You should take a quick look at yourself right now.”
“How do I look? I know I look good.”
“You really do look like a chirpy seal!” jawab Keonho sebelum ia kembali cekikikan dan memukul lengan yang lebih tua. “Berisik banget. Aku suka.”
“I’m being very serious right now,” balas Martin dengan kerutan yang masih tampak di dahinya, gagal untuk tidak mengeluarkan senyum samar yang tersungging di wajahnya.
“I knooow. Let me try to sort this out. Correct me if I’m wrong half-way, ya?”
Yang ditanya mengangguk.
"First of all, you miss me more than you'd like to admit." Martin memutar bola matanya.
"...Continue."
“Secondly, you’re sleep-deprived. You've been working on those strings for your music for a week, Kakak. Violin, guitar, bass, cello. Aku tahu tumbler yang Kakak bawa is filled with double shot americano instead of mineral water,” lanjut yang lebih muda.
Tangannya meraih dagu sang Kakak yang kembali sedikit menunduk, mengarahkan paras yang lebih tinggi itu agar tetap memandang lurus ke wajahnya.
“Thirdly, you’re extremely tired and you want more of my attention.” Keonho memberikan jeda sejenak. “All that while I keep on teasing you and being goofy and affectionate to the others. Bener nggak?”
Martin tidak langsung menjawab. Ia meraih tangan yang lebih muda yang masih bertengger di dagu dan rahangnya. Jemari mereka bertaut, sebelum Martin membawa genggaman itu turun dan menempelkannya tepat di depan dadanya. Kulit tangan Keonho yang hangat menyapu kaus tipis dibalik jaketnya.
“Yeah, you’re right. I guess it all comes down to the fact that I’m just one clingy older boyfriend who’s tired most of the time. Jesus, can’t believe this is who I am." Martin terkekeh hambar, matanya berkedip lambat menatap tautan tangan mereka. "I hate that a part of me even wanted to ask that from you.”
“Kakak, you’re not too much. You never are.” Keonho meremas pelan jemari di dadanya, berusaha menyalurkan keyakinan. “Kan iniii fungsinya kita ngobrol. Aku minta maaf karena aku nggak semobil sama Kakak. Kak Julio udah ngajak aku semobil dari kemarin-kemarin karena dia mau cerita ke aku. Also, his house is nearer to mine compared to yours.”
Yang lebih muda mendesah pelan, ada sesal yang terselip di nadanya. “Harusnya aku langsung bilang Kakak waktu itu, bukan pas H-2 berangkat. Ternyata kita nggak kesampaian ketemu terus, kan.”
Yang lebih tua hanya bergumam rendah tanda setuju. Ada rasa hangat sekaligus sedikit bersalah yang menggelitik dadanya karena menyadari sikapnya mungkin agak berlebihan.
Keonho perlahan melepas genggaman mereka. Namun, ia tidak menjauhkan tangannya. Ia menaruh telapak tangan yang lebih besar itu di atas telapak tangannya sendiri, membiarkan ibu jarinya bergerak mengusap dan memainkan jemari sang Kakak.
“Maaf juga karena aku becandain Kakak terus. I teased you because your heart is as vast as the ocean dan aku tau Kakak nggak akan marah beneran," suara Keonho melunak. "But it was not right for me to assume you’ll feel okay being teased like that all the time. You looked really nervous tadi, aku pikir you needed to let off some steam. But I chose the wrong way. I’m sorry, Kakak,” lanjutnya. “I didn’t mean to offend you in any way. You were really cool tadi.”
Yang lebih muda mengakhiri kalimatnya dengan volume suara yang kian mengecil. Mendadak, keberaniannya ikut menciut. Ia melarikan pandangannya dari sepasang manik Martin, mencari titik acak di tanah untuk dilihat demi menghindari tatapan dari yang lebih tua.
“...and unfortunately very pretty too,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.
Martin mengeluarkan suara frustrasi. “This is silly. Ujungnya kita selalu saling minta maaf.”
“Isn’t that how it is supposed to be?” Yang lebih muda kembali mendongak, matanya berkilat jail.
“True." Martin tersenyum tipis. "But from this, I also learned that I should just—you know—communicate with you right away. Bilang kalau aku kangen mampus. Atau ngedumel depan kamu langsung kalau kamu jahat banget anjir ke aku tapi nggak ke yang lain. Bilang kalau lagi mau diperhatiin…”
“Pasti Kakak nggak ngomong juga karena gamau sound too demanding, kan?”
“Iya lagi,” balas Martin pasrah. Dua jarinya naik memijit pelipisnya. “Maaf ya, Sayang...”
Keonho diam sebentar. Detik berikutnya, senyumnya tidak bisa ditahan lagi melihat tampang menyerah lelaki di depannya.
“Maaf apa? Maaf kalau you’re just one shorter clingy chirpy seal?”
Sebelum Martin sempat memprotes sebutan itu, yang lebih muda dengan lincah melangkah mundur. Kakinya naik ke atas bongkahan batu besar yang permukaannya tidak rata di belakangnya. Kini, posisinya membuat Keonho berdiri sedikit lebih tinggi dari Martin. Kedua tangannya merentang ke udara, bergoyang sedikit demi menjaga keseimbangan.
“I’m taller than you now!” seru yang lebih muda bangga. Ia menaruh tangan kanannya mendatar di atas kening, mengejek jarak antara tinggi mereka sekarang.
Namun, hukum fisika dan bongkahan batu itu seperti tahu kapan mengambil peran. Terima kasih Martin ucapkan untuknya karena enggan bekerja sama dengan kesombongan yang lebih muda dan membuatnya hampir terjungkal. Tanpa membuang waktu, Martin melangkah maju dan menangkap pergelangan tangan Keonho tepat saat yang lebih muda itu kehilangan keseimbangan, sementara tangan kirinya otomatis menahan pinggang yang lebih muda. Tubuh Keonho terdorong setengah langkah, jatuh tepat ke dalam dekapan yang lebih tua yang ikut bergeser menahan bobot mereka berdua.
Saat keduanya kembali tegak, baru Martin menyadari tak ada lagi ruang berarti yang tersisa di antara mereka. Terlalu dekat hingga hembusan nafas hangat tidak beraturan yang lebih muda itu langsung menyapu kulit pipi dan rahangnya.
Kedua pasang mata itu saling bertatap. Keheningan mencekam sejenak. Seperti ada sengatan tak kasat mata yang menyambar keduanya, tak berwujud tetapi cukup untuk membuncahkan sesak dari jantung yang berdegap.
Namun, atmosfer magis itu tidak bertahan lama. Keonho, dengan segala sifat keras kepalanya yang tidak mau kalah, menolak untuk terlihat salah tingkah. Sudut bibirnya perlahan melengkung, membentuk seringai usil andalannya.
"Mau ngapain?" tanya yang lebih muda, suaranya sengaja dibuat rendah dan berbisik. Tatapannya turun ke bibir yang dipanggil Kakak itu sebelum kembali mengunci ke matanya. "Emangnya berani?”
Satu alis yang lebih muda terangkat naik, membentuk wajah yang demi Tuhan sangat menyebalkan, pikir Martin.
“Dasar tengil,” cibir yang lebih tua. Tangan kanannya yang bebas bergerak ke belakang kepala yang lebih muda, mencengkeram lembut tengkuknya untuk menurunkannya sedikit agar dahi mereka bersentuhan. Martin mengernyitkan hidung, menatap gemas wajah di depannya yang hanya berjarak beberapa senti saja. “You’re insufferable, Sea Lion. We’re literally in a public place.”
“And hiding!” bisik yang lebih muda. Kedua tangannya kini memegang erat ujung bahu orang di depannya. Entah untuk tumpuan atau karena ia mulai merasa gemas melihat lagak Kakak-nya itu.
Yang lebih tua hanya bisa membalas dengan mendengus pasrah disusul senyum yang tidak bisa ia sembunyikan. Pertahanannya runtuh. Kedua tangannya bergerak melingkari tubuh Keonho, menarik lemas yang lebih muda yang wajahnya kini sudah menempel di lekuk lehernya.
“Let’s stay like this for a while." Martin berbisik pelan, tangannya bergerak mengusap puncak kepala Keonho.
Sekarang giliran yang lebih muda yang harus menelan ludah sendiri. Alih-alih membalas dengan ucapan jail seperti biasanya, Keonho memilih menyerah dan melingkarkan kedua tangan di punggung Kakak-nya, berusaha merapatkan tubuh mereka padahal jarak pun sebenarnya sudah tak ada. Jemarinya bergerak perlahan, mengusap lambat punggung yang lebih tua, berharap usahanya ini cukup untuk menetralkan gemuruh di dadanya.
Keonho tidak tahu saja, bahwa sedari tadi, yang lebih tua juga mati-matian menahan debar yang kian tak mampu ia abaikan sejak pertama jemari mereka saling bertautan.